Di Indonesia, pemerintah juga mulai menghitung dampak kenaikan harga minyak terhadap kondisi fiskal negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi risiko atau stress test terhadap potensi lonjakan harga minyak dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Berdasarkan simulasi Kementerian Keuangan, harga minyak berpotensi memberikan tekanan pada fiskal apabila rata-rata mencapai US$92 per barel sepanjang tahun. Angka tersebut jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN yang dipatok sekitar US$60 per barel.
Purbaya menyebut dalam skenario tersebut defisit APBN berpotensi melebar hingga sekitar 3,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). *