DISWAY.ID — Harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga melampaui level US$100 per barel pada Minggu 8 Maret 2026. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Lonjakan tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Dilaporkan CNN, lonjakan harga minyak terjadi karena kekhawatiran investor terhadap dampak jangka panjang dari konflik yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran. Pasar menilai perang tersebut berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah dalam waktu lama.
Minyak mentah acuan Brent tercatat naik sekitar 12,63 persen hingga mencapai US$104 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat mengalami kenaikan lebih tinggi, yakni sekitar 14,7 persen.
Kenaikan harga energi ini juga memicu gejolak di pasar saham global. Indeks Dow Jones tercatat turun 851,6 poin atau sekitar 2 persen. Penurunan juga terjadi pada indeks S&P 500 dan Nasdaq yang masing-masing melemah 1,73 persen dan 1,65 persen.
Tekanan di pasar keuangan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat memicu inflasi baru di Amerika Serikat.
Jika harga minyak dan gas terus meningkat dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperburuk beban biaya hidup masyarakat di AS. Situasi tersebut juga dinilai dapat menempatkan Presiden AS Donald Trump dan Partai Republik dalam posisi politik yang lebih rentan menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) tahun ini.
Di sisi lain, pemerintah AS berupaya meredam kekhawatiran publik mengenai dampak konflik terhadap harga bahan bakar. Pada Minggu 8 Maret 2026, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa lonjakan harga bensin tidak akan berdampak besar dalam jangka panjang.
Ia menyampaikan hal itu dalam wawancara dengan ABC News.
Trump mengatakan kepada ABC News bahwa lonjakan harga bensin sebagai "gangguan kecil" dan menyebut lonjakan harga minyak yang tengah terjadi sebagai "pengalihan" atau detour yang sudah diproyeksi sebelumnya.
Dalam program "State of the Union" di CNN, Menteri Energi Chris Wright juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki rencana untuk menyerang fasilitas industri minyak Iran maupun infrastruktur energi lainnya.
Namun demikian, ketegangan di kawasan masih berpotensi meningkat. Seorang pejabat senior Iran memperingatkan bahwa konflik telah memasuki tahap baru setelah serangan Israel.
Pejabat tersebut memberi sinyal kemungkinan adanya serangan balasan yang dapat menyasar infrastruktur energi di kawasan dalam beberapa hari mendatang.
"Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai target yang diinginkan tercapai," ujar pejabat tersebut, Minggu 8 Maret 2026.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dikendalikan Iran, tempat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap hari. Iran sebelumnya telah mengancam akan menyerang kapal tanker yang melewati selat tersebut, yang berpotensi menghentikan lalu lintas pengiriman minyak di kawasan itu.
Situasi tersebut membuat sebagian produsen minyak menghadapi keterbatasan ruang penyimpanan bagi produksi mereka. Akibatnya, sejumlah produsen mulai mempertimbangkan pengurangan produksi minyak.