Kapal Perang AS Diserang Rudal Iran di Selat Hormuz, Washington Bantah!

Senin 04-05-2026,10:55 WIB
Reporter : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

DISWAY.ID - Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Iran Klaim Kapal Perang AS Dipukul Mundur, Washington Membantah. 

Situasi di kawasan Selat Hormuz kembali memanas setelah muncul laporan saling bertolak belakang antara Iran dan Amerika Serikat terkait insiden di jalur pelayaran strategis tersebut.

Kantor berita Fars melaporkan bahwa kapal perang milik Amerika Serikat terpaksa berbalik arah setelah mendapat serangan saat mencoba melintas di Selat Hormuz. Disebutkan, kapal tersebut sebelumnya mengabaikan peringatan dari angkatan laut Iran.

Dalam laporan yang belum bisa diverifikasi secara independen itu, disebutkan dua rudal menghantam fregat Angkatan Laut AS ketika melintas di perairan dekat Pulau Jask. Iran menilai pergerakan kapal tersebut sebagai pelanggaran terhadap keamanan lalu lintas pelayaran di wilayah itu.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Amerika Serikat. Seorang pejabat AS menyebut laporan yang beredar tidak benar.

“Garda Revolusi Iran mengarang laporan tentang serangan terhadap kapal angkatan laut AS, dan laporan ini palsu,” kata pejabat tersebut.

Sebelumnya, militer Iran memang telah mengeluarkan ancaman tegas terhadap kehadiran pasukan asing, khususnya Amerika Serikat, di Selat Hormuz. Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan rencana operasi pengawalan kapal di kawasan tersebut.

"Kami akan menyerang pasukan bersenjata asing mana pun yang mencoba mendekati atau memasuki selat tersebut, terutama, tentara AS yang agresif," ujar komandan Iran dalam pernyataannya, Senin 4 Mei 2026.

Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan bahwa Iran telah berulang kali menyatakan kendali penuh atas Selat Hormuz. Ia menekankan bahwa setiap jalur aman di kawasan itu harus dikoordinasikan dengan pihak Iran dalam kondisi apa pun.

Pernyataan tersebut disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting.

Di sisi lain, militer AS justru meningkatkan kehadirannya di kawasan tersebut. Komando Pusat AS menyatakan akan mengerahkan kekuatan besar dalam operasi bertajuk “Proyek Kebebasan”.

"Pasukan Komando Pusat AS akan mulai mendukung Proyek Kebebasan, 4 Mei, untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial melalui Selat Hormuz," demikian pernyataan resmi United States Central Command yang dirilis pada Ahad.

Operasi ini melibatkan sekitar 15.000 personel militer, kapal perusak rudal berpemandu, serta lebih dari 100 pesawat yang berbasis di darat dan laut.

Menurut Centcom, Selat Hormuz merupakan jalur vital karena sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melewati kawasan tersebut, selain juga menjadi rute penting bagi pengiriman bahan bakar dan pupuk.

"Dukungan kami untuk misi pertahanan ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global karena kami juga mempertahankan blokade angkatan laut," tambah Laksamana Brad Cooper.

Tags :
Kategori :

Terkait