Kemenag Sulut Dorong Transformasi Pendidikan Keagamaan di Era Digital
Kakanwil Kemenag Sulut Ulyas Taha, pada saat mengikuti Seminar Internasional bertema “Transformasi Pendidikan Keagamaan Berdampak: Adaptif, Inovatif dan Unggul di Era Digital” di Manado, Jumat (25/09/2026). -Kemenag. (1)-
MANADO - Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Utara mendorong penguatan transformasi pendidikan keagamaan agar mampu mengikuti perkembangan teknologi digital dan perubahan sosial.
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulawesi Utara Ulyas Taha mengatakan perubahan teknologi menjadi tantangan sekaligus kebutuhan yang harus direspons oleh lembaga pendidikan keagamaan.
"Saat ini menjadi bagian penting bagi Kemenag Sulut dalam penguatan transformasi pendidikan keagamaan," kata Kakanwil Kemenag Sulut Ulyas Taha, di Manado, Minggu.
Menurut Ulyas, lembaga pendidikan keagamaan perlu meninggalkan ketergantungan terhadap pola pembelajaran konvensional. Perubahan teknologi dan kondisi sosial yang terus berkembang menuntut dunia pendidikan melakukan penyesuaian.
Ia menjelaskan, adaptasi terhadap teknologi harus tetap berjalan seiring dengan upaya membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Nilai-nilai keagamaan juga dinilai harus tetap menjadi landasan dalam proses pendidikan.
Karena itu, Kemenag Sulut mendorong penguatan jejaring akademik dan kelembagaan. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk melahirkan gagasan baru terkait pendidikan keagamaan yang mampu beradaptasi dengan perubahan serta menerapkan metode pembelajaran yang inovatif.
Ulyas menilai penguatan tersebut penting agar lembaga pendidikan keagamaan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan di era digital.
Pernyataan itu disampaikan Ulyas seusai menghadiri Seminar Internasional bertajuk "Transformasi Pendidikan Keagamaan Berdampak: Adaptif, Inovatif dan Unggul di Era Digital" di Manado.
Seminar tersebut digelar oleh UIN Alauddin Makassar bersama Adjunct Professor UMWALES Malaysia. Kegiatan menghadirkan sejumlah akademisi dan pemateri dari dalam maupun luar negeri.
Forum tersebut menjadi wadah akademik untuk mempertemukan berbagai pandangan mengenai pendidikan, keagamaan, dan pemikiran Islam dalam menghadapi perubahan sosial serta perkembangan teknologi.
Dalam seminar itu, Rektor UIN Alauddin Makassar Hamdan Juhannis turut membagikan pengalaman dan pemikirannya yang dituangkan dalam buku "Melawan Takdir".
Buku tersebut menggambarkan perjalanan intelektual dan pengalaman hidup yang mengajak peserta memahami bahwa pendidikan dan perjuangan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik.
Materi dalam buku itu juga menyoroti keberanian seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan dan keterbatasan dalam perjalanan hidup.
Salah satu pembahasan utama dalam seminar mengangkat tema "Maqasid Based vs Syariah Based". Sesi tersebut membahas perbedaan sekaligus keterkaitan antara pendekatan berbasis maqasid dan pendekatan berbasis syariah dalam menyikapi persoalan kontemporer.
Sumber: