Gubernur Sulut Ajak Warga Waspadai Dampak Berantai Kekeringan Ekstrem

Gubernur Sulut Ajak Warga Waspadai Dampak Berantai Kekeringan Ekstrem

Ilustrasi musim kemarau dan kekeringan -AI-

MANADO -  Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak berantai akibat kekeringan ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di provinsi tersebut.

Yulius menyebut delapan daerah di Sulut mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam periode yang cukup panjang. Kondisi itu berpotensi memicu status siaga kekeringan sekaligus menimbulkan dampak terhadap berbagai sektor, mulai dari lingkungan hingga perekonomian.

"Delapan daerah di provinsi ini mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) yang panjang. HTH tersebut memicu status siaga kekeringan dan rangkaian dampak berantai bagi lingkungan, kesehatan, hingga perekonomian daerah," katanya di Manado, Kamis 20 Agustus 2026.

Menurut Yulius, salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi lahan yang mengering, ditambah suhu udara yang tinggi, dapat memunculkan titik api baru dan menyebabkan kebakaran meluas.

Kekeringan juga berpotensi memicu persoalan ketersediaan air bersih. Berkurangnya sumber air baku serta menyusutnya debit sumur warga dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari.

Sektor pertanian turut menghadapi risiko serius. Kekurangan pasokan air irigasi dapat menyebabkan sawah dan lahan pertanian tidak memperoleh air yang cukup sehingga berpotensi meningkatkan ancaman gagal panen.

Dampak lainnya berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Debu akibat kondisi tanah yang kering serta asap dari kebakaran lahan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dari sisi ekonomi, kekeringan juga dapat berdampak pada harga pangan. Penurunan produksi pertanian berpotensi menyebabkan pasokan sejumlah komoditas lokal di pasar berkurang sehingga mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok.

"Kita menghadapi musim kemarau yang panjang," kata Gubernur Yulius.

Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Upaya yang dilakukan antara lain melalui pemetaan wilayah rawan serta optimalisasi pengelolaan sumber daya air.

"Warga juga dapat melakukan percepatan tanam dengan menggunakan varietas tahan kekeringan, mengatur pola tanam, serta meningkatkan koordinasi dan sinergi," ujarnya.

Yulius berharap langkah antisipasi tersebut dapat dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah dan masyarakat untuk menekan dampak kekeringan, terutama terhadap ketersediaan air, pertanian, kesehatan, lingkungan, dan stabilitas harga pangan. *

 

Sumber: