Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.667 per Dolar AS, Dipicu Tekanan Global
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS--
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 71 poin atau 0,41 persen ke level Rp17.667 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi kuatnya tekanan eksternal yang membuat mata uang dolar AS kembali menguat di pasar global.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dolar terjadi akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
“Penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak. Inflasi mendorong ekspektasi pelaku pasar terhadap prospek kebijakan suku bunga the Fed,” kata Ibrahim Assuaibi dalam analisinya, Senin, 18 Mei 2026.
Menurutnya, pasar kini memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama karena inflasi dinilai masih jauh dari target bank sentral AS sebesar 2 persen.
“Inflasi semakin menjadi dari target the Fed sebesar 2 persen,” ucap Ibrahim.
Di sisi lain, situasi geopolitik global turut memperburuk sentimen pasar. Harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran disebut kembali memudar setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman aksi militer terhadap Iran.
Pernyataan tersebut muncul usai terjadinya serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab. Hingga kini, Uni Emirat Arab masih menyelidiki asal serangan tersebut, sementara Arab Saudi mengklaim berhasil menggagalkan serangan drone.
“Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik,” ujar Ibrahim.
Ia juga menyebut pasar kecewa karena pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping belum menghasilkan solusi untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Selain sentimen global, faktor domestik juga dinilai ikut memberi tekanan terhadap rupiah. Ibrahim menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait masyarakat desa yang disebut tidak menggunakan dolar AS.
“Sangat disayangkan, orang-orang di lingkaran Presiden tidak bisa mengarahkan pidato Presiden sesuai protokol yang ada. Ini merupakan koreksi untuk melakukan pembenahan agar tidak terulang lagi,” ucap Ibrahim. *
Sumber: