Perbedaan 1 Syawal 1447 H, Muhammadiyah Sulut: Momentum Perkuat Ukhuwah Islamiah
Ratusan umat Muslim melakukan Shalat Idul Fitri di Lapangan Basket Kawasan Megamas di Manado. -Antara-
DISWAY.ID — Perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah kembali terjadi antara pemerintah dan organisasi masyarakat Islam. Meski demikian, kondisi ini dinilai tidak perlu menjadi sumber perpecahan di tengah umat.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Utara (Sulut), Masrur Mustamat, menegaskan bahwa perbedaan tersebut justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiah. Hal itu disampaikan usai pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Lapangan Basket Kawasan Megamas, Manado.
Menurutnya, umat Islam perlu menyikapi perbedaan dengan bijak dan tetap menjaga persatuan dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.
"Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri tahun ini kembali terjadi antara pemerintah dan organisasi masyarakat Islam, khususnya Muhammadiyah," kata dia setelah Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Basket Kawasan Megamas di Manado, Jumat 20 Maret 2026.
Ia mengajak seluruh umat Islam agar tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk terjadinya perpecahan, melainkan sebagai sarana mempererat kebersamaan.
"Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat ukhuah islamiah,” ujar dia.
Masrur menjelaskan, perbedaan dalam penetapan hari raya bukanlah hal baru. Selama ini, terdapat perbedaan metode yang digunakan, yakni hisab yang dipakai Muhammadiyah dan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama.
Muhammadiyah sendiri menetapkan 1 Syawal lebih awal dibandingkan pemerintah. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya mendorong penyatuan kalender Islam global, sehingga di masa mendatang umat Islam diharapkan dapat merayakan hari besar secara serentak.
Kendati demikian, ia berharap umat tetap mengedepankan sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan tersebut. Semangat kebersamaan, kata dia, harus terus dijaga dalam kehidupan sosial.
Masrur juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan aparat keamanan atas dukungan dalam pelaksanaan Shalat Idul Fitri, khususnya bagi warga Muhammadiyah di berbagai wilayah.
Menurutnya, kolaborasi antara organisasi keagamaan, pemerintah, dan aparat keamanan memiliki peran penting dalam memastikan ibadah berjalan dengan aman dan tertib.
Selain itu, Muhammadiyah bersama sejumlah pengurus daerah turut berkontribusi dalam mendukung kegiatan keagamaan dengan menyediakan berbagai fasilitas bagi jamaah.
"Kami Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulut bekerja sama dengan pimpinan daerah Muhammadiyah itu menyediakan 32 titik. Jadi ini bukan satu-satunya di kawasan Megamas sebagai lokasi Shalat Id," ujarnya.
Ia pun berharap masyarakat terus menjaga toleransi serta saling menghormati, agar suasana Hari Raya Idul Fitri tetap berlangsung damai dan penuh kebersamaan.
Sumber: