Ini Empat Penyakit Paru Berbahaya yang Mengintai, Kewaspadaan Nasional Harus Diperketat
Ilustrasi virus--
DISWAY.ID, Jakarta – Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengingatkan masyarakat dan pemangku kebijakan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah penyakit infeksi paru-paru berat yang berpotensi menimbulkan dampak serius. Peringatan ini disampaikan Ketua Majelis Kehormatan PDPI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menyikapi perkembangan laporan internasional terkait penyakit menular.
Mengacu pada Disease Outbreak News dari World Health Organization (WHO) yang dirilis pada Desember 2025 serta Januari dan Februari 2026, Prof. Tjandra menyebut terdapat empat jenis infeksi paru-paru berat yang perlu menjadi perhatian bersama. Penyakit tersebut meliputi Avian Influenza atau flu burung, Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS CoV), Super Flu, serta penyakit akibat infeksi virus Nipah.
Dalam keterangan tertulis yang dikonfirmasi pada Senin, Prof. Tjandra memaparkan bahwa flu burung masih menjadi ancaman serius, terutama di kawasan kerja WHO Western Pacific Office (WPRO). Data periode 2023 hingga 2025 menunjukkan angka kematian akibat flu burung di enam negara anggota WPRO yang melaporkan kasus mencapai 66,3 persen.
Indonesia, menurut dia, termasuk negara dengan tingkat fatalitas yang sangat tinggi. Angka kematian akibat flu burung di Tanah Air tercatat mencapai 84 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di kawasan tersebut.
Sejumlah varian virus influenza penyebab flu burung juga masih beredar di wilayah WPRO. Jenis virus yang tercatat antara lain H3N8, H7N4, H7N9, H9N2, H10N3, dan H10N5. Sementara itu, data WHO WPRO per Januari 2026 mencatat laporan terakhir kasus flu burung berasal dari Kamboja pada tahun 2025.
Selain flu burung, Prof. Tjandra menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap MERS CoV. Berdasarkan laporan WHO pada Desember 2025, sebanyak 17 kasus MERS CoV dilaporkan muncul di Arab Saudi sepanjang tahun 2025.
“Tentu ini perlu jadi perhatian kita juga, mengingat banyaknya jamaah umrah Indonesia dan juga kesiapan menghadapi musim haji tahun ini,” kata Prof. Tjandra.
Ancaman berikutnya datang dari Super Flu yang disebabkan oleh virus influenza A H3N2 subclade K. Peningkatan penularan virus ini mendorong Pemerintah Kota Tokyo, Jepang, untuk kembali mengeluarkan peringatan influenza atau Influenza Advisory untuk pertama kalinya dalam 17 tahun terakhir.
Tak hanya itu, lonjakan kasus Influenza B juga dilaporkan terjadi di Korea dan Jepang pada awal Februari 2026. Amerika Serikat pun mencatat tren peningkatan kasus serupa dalam periode yang sama.
“Pada kenyataannya ada juga kasus di negara kita karena Influenza B ini,” kata Prof. Tjandra.
Penyakit infeksi paru-paru berat lainnya yang perlu diwaspadai adalah infeksi virus Nipah. Virus ini dapat menular ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi dan berpotensi menimbulkan dampak serius pada sistem pernapasan.
Menurut Prof. Tjandra, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan pneumonia atipikal yang berisiko berkembang menjadi gangguan paru berat hingga acute respiratory distress.
“Untuk kita di Indonesia maka perlu terus ditingkatkan kegiatan surveilans virus infeksi paru dan saluran napas, sehingga situasi dapat dikenali dan ditangani dengan baik,” katanya. *
Sumber: