Aksi Atlet Dayung Inggris Lepaskan Penyu dari Jaring Plastik di Samudra Atlantik

Aksi Atlet Dayung Inggris Lepaskan Penyu dari Jaring Plastik di Samudra Atlantik

Penyu, Image: DerWeg / Pixabay--

sulut.disway.id - Di tengah luasnya Samudra Atlantik, sebuah keputusan spontan dari tiga atlet dayung Inggris mengubah jalannya perjalanan mereka. Saat mengikuti perlombaan lintas samudra yang terkenal ekstrem, mereka memilih menghentikan laju perahu bukan karena kelelahan, melainkan demi menyelamatkan seekor penyu laut yang terjebak jaring plastik. Peristiwa ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa muncul bahkan di situasi paling menantang.

Penyu Terlihat Terperangkap di Tengah Jalur Lomba

Tim Call to Earth, yang beranggotakan John Hammond, Stacey Rivers, dan Emma Wolstenholme, tengah menjalani World’s Toughest Row, sebuah tantangan mendayung lebih dari 3.000 mil melintasi Atlantik. Perlombaan ini menuntut ketahanan fisik dan mental tinggi karena para peserta harus bergantian mendayung hampir tanpa jeda, menghadapi cuaca ekstrem serta gelombang laut terbuka.

Ketika perahu mereka sudah berada ratusan mil dari daratan, tim ini melihat seekor penyu laut besar yang bergerak tidak wajar di permukaan air. Setelah didekati, terlihat jelas bahwa tubuh penyu tersebut terjerat jaring plastik yang menghambat pergerakannya dan berpotensi membahayakan nyawanya.

Keputusan Berhenti di Tengah Tantangan Ekstrem

Tanpa mempertimbangkan posisi lomba atau waktu tempuh, ketiga atlet sepakat menghentikan pendayungan. Dengan hati-hati, mereka mendekati penyu tersebut dan mulai melepaskan jaring plastik yang melilit tubuhnya. Proses ini dilakukan perlahan untuk menghindari cedera tambahan, mengingat kondisi laut terbuka yang tidak stabil.

Setelah jaring berhasil dilepas, penyu itu perlahan menjauh dan kembali menyelam ke laut lepas. Momen singkat tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan mereka, bahkan melebihi tantangan fisik yang mereka hadapi selama lomba.

Perlombaan dengan Tujuan Lebih Besar

Keikutsertaan tim Call to Earth dalam World’s Toughest Row memang tidak semata-mata soal kompetisi. Mereka membawa misi lingkungan dengan mendukung Blue Marine Foundation dan The Ocean Cleanup, dua organisasi yang aktif menangani kerusakan ekosistem laut serta pencemaran plastik.

Aksi penyelamatan penyu ini sejalan dengan tujuan tersebut. Bagi mereka, laut bukan hanya lintasan perlombaan, melainkan ruang hidup bagi jutaan makhluk yang kini terancam oleh aktivitas manusia.

Jaring Plastik dan Ancaman Nyata bagi Laut

Jaring plastik yang terbuang di laut, sering disebut jaring hantu, menjadi salah satu ancaman paling berbahaya bagi satwa laut. Benda ini dapat terus mengapung selama bertahun-tahun dan menjerat berbagai spesies tanpa henti. Penyu laut termasuk yang paling rentan karena sering terperangkap saat bermigrasi atau mencari makan.

Insiden yang terjadi di Atlantik ini menunjukkan bahwa pencemaran laut tidak hanya terjadi di perairan dekat pantai, tetapi juga di tengah samudra yang jauh dari aktivitas manusia secara langsung.

Pesan dari Laut Lepas

Aksi tim dayung Inggris ini mendapat perhatian luas setelah mereka membagikan videonya di media sosial. Banyak yang melihat peristiwa tersebut sebagai pengingat bahwa perlindungan lingkungan tidak selalu datang dari kebijakan besar, tetapi juga dari keputusan individu di saat yang krusial.

Di tengah perlombaan yang menguji batas kemampuan manusia, tindakan sederhana menyelamatkan seekor penyu justru meninggalkan pesan yang jauh lebih kuat. Laut memberi tantangan, tetapi juga meminta tanggung jawab. Dan pada momen itu, ketiga atlet tersebut memilih untuk menjawabnya.

Referensi

 

World’s Toughest Row Atlantic
Call to Earth team rescues sea turtle during Atlantic crossing – UPI
Blue Marine Foundation – Ocean conservation
The Ocean Cleanup – Ocean plastic solutions

Sumber: