Ketum PWI Pusat Ingatkan Wartawan Harus Berjiwa Pejuang, Jaga Profesionalisme dan Integritas

Minggu 08-11-2026,15:19 WIB
Reporter : Afdal Namakule
Editor : Afdal Namakule

MANADO - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, menegaskan bahwa wartawan memiliki jati diri sebagai pejuang yang turut berperan dalam perjalanan sejarah bangsa. Nilai perjuangan tersebut, menurutnya, harus terus dipertahankan oleh insan pers di tengah berbagai tantangan dunia jurnalistik saat ini.

Pesan itu disampaikan Akhmad Munir saat menghadiri PWI Sulut Award 2026 di Manado, Sabtu. Ia mengingatkan bahwa PWI memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"PWI sendiri lahir pada tahun 1946, bersamaan dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Akhmad Munir.

Ia menyebutkan, saat ini jumlah anggota PWI hampir mencapai 40 ribu orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Besarnya organisasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang PWI dalam mengawal kehidupan pers nasional.

"Sejarah panjang itu menjadi bukti bahwa PWI bukan organisasi baru, melainkan bagian dari sejarah bangsa," katanya.

Munir menegaskan, semangat wartawan pejuang harus tetap hidup dan diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat, pemerintah daerah, serta kemajuan bangsa.

Ia menilai media tidak seharusnya diposisikan sebagai musuh pemerintah. Sebaliknya, pers merupakan mitra strategis yang memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan daerah, sekaligus menjaga demokrasi bersama seluruh pemangku kepentingan.

"Kami merasa masih banyak utang yang harus ditunaikan. PWI sebagai wartawan pejuang, dan PWI adalah pejuang. Banyak wartawan PWI yang waktu itu bersama para pahlawan kemerdekaan Indonesia memperjuangkan kemerdekaan, dan itu yang kita rawat dan jaga," kata Munir.

Menurutnya, perjuangan wartawan tidak berhenti setelah Indonesia meraih kemerdekaan. Masih terdapat tanggung jawab besar yang harus dituntaskan, yakni ikut memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

"Kita sudah mencatatkan sejarah, dan memang harus diperjuangkan. Hal itu masih relevan dengan saat ini," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Munir turut menyoroti perkembangan media sosial yang menghadirkan tantangan sekaligus kesempatan bagi insan pers. Arus informasi yang semakin deras membuat masyarakat berhadapan dengan berbagai konten, termasuk berita bohong, fitnah, hingga informasi yang sengaja diputarbalikkan.

Ia mengibaratkan informasi seperti obat yang dapat berubah menjadi racun apabila dikonsumsi secara berlebihan tanpa mengetahui kebenarannya.

Menurut Munir, untuk mengatasi dampak buruk informasi palsu, masyarakat membutuhkan berita yang benar, akurat, dan telah melalui proses verifikasi. Peran tersebut menjadi tanggung jawab wartawan profesional melalui kerja jurnalistik yang berlandaskan kaidah dan etika pers.

Produk jurnalistik yang berkualitas, lanjutnya, dapat menjadi sumber informasi sehat sekaligus memberikan energi positif bagi masyarakat.

"Kami yakin warga menginginkan berita yang akurat, karena itu, pastikan jati diri wartawan, pelihara profesionalisme dan integritas," pesan Munir kepada seluruh wartawan yang hadir.

Tags :
Kategori :

Terkait