DISWAY.ID - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan di Gunung Awu yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Data ini merujuk pada hasil evaluasi periode 1–15 Maret 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyebutkan bahwa rata-rata gempa vulkanik dangkal mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini menjadi salah satu indikator aktivitas magmatik yang masih berlangsung di bawah permukaan.
"Kondisi gempa vulkanik dangkal saat ini mengalami sedikit peningkatan dibanding periode sebelumnya dimana rata-rata kejadian meningkat dari 14 kejadian per hari menjadi 16 kejadian per hari," kata Lana Saria dalam laporan yang diterima di Manado, Senin 30 Maret 2026.
Secara umum, aktivitas kegempaan Gunung Awu masih didominasi oleh gempa vulkanik dangkal serta gempa tektonik jauh. Dalam periode tersebut tercatat total 242 kejadian gempa vulkanik dangkal dengan rata-rata 16 kali per hari. Selain itu, terdapat 16 gempa vulkanik dalam, tiga gempa tektonik lokal, dan 226 gempa tektonik jauh.
Dari sisi energi gempa, hasil pengukuran menggunakan Real Time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) menunjukkan nilai yang berfluktuasi. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor cuaca serta dinamika aktivitas kegempaan yang terjadi.
Sementara itu, pengamatan visual menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan pada kawah Gunung Awu sejak Juli 2024. Asap kawah yang terpantau berkisar antara 10 hingga 100 meter, dengan dominasi di bawah 25 meter dari atas kubah lava.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas embusan asap masih bersifat fluktuatif dan belum menunjukkan peningkatan signifikan secara berkelanjutan. Namun demikian, peningkatan gempa vulkanik dangkal yang berada di atas normal tetap menjadi perhatian.
Hal ini menunjukkan adanya proses magmatik dan akumulasi tekanan di kedalaman dangkal yang dapat memicu retakan atau pelepasan tekanan pada batuan dekat permukaan.
Hasil pemantauan visual dan instrumental juga menegaskan bahwa aktivitas magma di Gunung Awu masih berlangsung aktif. Oleh karena itu, potensi peningkatan aktivitas secara tiba-tiba, termasuk swarm gempa vulkanik maupun gempa berfrekuensi rendah, masih perlu diwaspadai.
Potensi bahaya yang dapat terjadi meliputi erupsi magmatik eksplosif yang menghasilkan lontaran material pijar dan aliran piroklastik, erupsi efusif berupa aliran lava, hingga erupsi freatik yang didominasi uap dan gas. Selain itu, pembongkaran kubah lava juga berpotensi terjadi jika tekanan dalam sistem magmatik meningkat signifikan.
Ancaman lain yang tak kalah berbahaya adalah hembusan gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Berdasarkan evaluasi hingga 15 Maret 2026, status aktivitas Gunung Awu masih berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah.
Pemerintah juga mengingatkan agar masyarakat mengikuti seluruh rekomendasi resmi dari Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi terkait aktivitas gunung tersebut. *