DISWAY.ID, Manado - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan laju inflasi di Sulawesi Utara (Sulut) pada 2026 tetap berada dalam koridor sasaran nasional sebesar 2,5 persen. Proyeksi tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Kepala BI Sulut, Joko Supratikto, menyebut sejumlah faktor diperkirakan akan memberi tekanan terhadap harga barang dan jasa sepanjang tahun depan. Namun demikian, berbagai langkah pengendalian dinilai mampu meredam potensi lonjakan inflasi.
"Kenaikan harga utamanya berasal dari fluktuasi komoditas pangan, peningkatan aktivitas penerbangan seiring pembukaan rute baru dan potensi berlanjut kenaikan harga emas global," kata Kepala BI Sulut Joko Supratikto, di Manado, Jumat 27 Februari 2026.
Meski terdapat potensi tekanan harga, Joko menjelaskan bahwa pemerintah dan pemangku kepentingan telah menyiapkan sejumlah strategi pengendalian. Salah satunya melalui program Swasembada Pangan yang mendorong penyerapan hasil pertanian dan peternakan lokal sebagai bahan baku Program MBG.
Selain itu, optimalisasi intervensi stabilisasi harga juga terus diperkuat. Upaya tersebut dilakukan melalui penyaluran bantuan pangan beras kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), distribusi beras SPHP, pelaksanaan operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, hingga penguatan peran Kios TPID.
Pada 2025, Sulut berhasil mencatatkan inflasi terendah secara nasional dengan angka 1,23 persen secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas harga pada tahun berikutnya.
Rendahnya inflasi tahun lalu dipengaruhi oleh panen raya dan kelancaran pasokan dari berbagai daerah pemasok sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuat harga sejumlah komoditas pangan utama tetap terkendali.
Secara tahunan, emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang mendorong inflasi akibat kenaikan harga emas global yang dipicu gejolak geopolitik. Sementara itu, komoditas daging babi justru berperan menahan laju inflasi seiring pulihnya stok setelah terdampak wabah African Swine Fever (ASF) yang sebelumnya menyebabkan keterbatasan pasokan.
Untuk inflasi tahunan pada Januari 2026, Joko menilai tekanan harga terutama bersumber dari faktor administered prices atau kebijakan harga yang diatur pemerintah. Penyesuaian tarif listrik pada tahun sebelumnya menjadi salah satu pemicunya, selain inflasi inti yang turut terdorong oleh kenaikan harga emas perhiasan.
Adapun secara bulanan, inflasi lebih banyak dipengaruhi kelompok volatile food atau komoditas pangan yang harganya berfluktuasi. Komoditas seperti tomat dan hasil perikanan tangkap menjadi penyumbang utama, terutama karena tingginya curah hujan yang berdampak pada turunnya produksi pertanian serta terbatasnya aktivitas melaut para nelayan.
Dengan kombinasi langkah stabilisasi dan dukungan pasokan yang memadai, BI optimistis tekanan inflasi di Sulut pada 2026 tetap dapat dijaga dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan pemerintah.