Harga Tomat Melonjak 400 Persen, Inflasi Sulawesi Utara Tembus 8,07 Persen

Harga Tomat Melonjak 400 Persen, Inflasi Sulawesi Utara Tembus 8,07 Persen

tomas di pasar Sulut-Dok Antara-

MANADO  - Lonjakan harga sejumlah komoditas pangan, terutama tomat dan cabai, menjadi pemicu tingginya inflasi tahunan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Oktober 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Sulawesi Utara mencapai 8,07 persen. Kenaikan harga komoditas hortikultura dan beras menjadi faktor utama yang mendorong tekanan inflasi tersebut.

Kepala BPS Sulawesi Utara, Dr Watekhi, mengatakan sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi pada Oktober 2026 meliputi tomat, cabai merah, cabai rawit, daun bawang, dan beras.

"Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga tomat, cabai merah, cabai rawit, daun bawang, dan beras di bulan Oktober 2026," kata Watekhi di Manado, Senin.

Ia menjelaskan, kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura dipengaruhi terbatasnya pasokan dari daerah penghasil. Kondisi tersebut terjadi akibat penurunan hasil panen yang dipicu cuaca panas berkepanjangan.

Menurutnya, suhu panas menyebabkan tanaman layu hingga mengering sehingga produktivitas pertanian menurun. Dampaknya, jumlah komoditas yang tersedia di pasar menjadi lebih sedikit dibandingkan kebutuhan.

Tekanan harga juga terjadi pada komoditas beras. BPS mencatat kenaikan harga beras pada Oktober 2026 dipengaruhi terbatasnya pasokan yang masuk ke pasar karena hasil panen di sejumlah daerah penghasil belum optimal.

"Meskipun beberapa wilayah di Bolaang Mongondow telah memasuki musim panen, hasilnya masih terbatas," katanya.

Watekhi menambahkan, Sulawesi Utara sebenarnya memperoleh tambahan pasokan beras dari Sulawesi Tengah. Namun, distribusi yang belum merata membuat pasokan tersebut belum mampu menekan harga beras secara menyeluruh.

Di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pangan, beberapa jenis ikan justru mengalami penurunan harga. Komoditas tersebut antara lain ikan selar atau tude, ikan malalugis atau sorihi, ikan cakalang atau sisik, serta ikan deho.

Penurunan harga ikan terjadi seiring bertambahnya pasokan di pasar. Semakin banyak nelayan yang kembali melaut sehingga hasil tangkapan meningkat dan stok ikan menjadi lebih melimpah.

Secara keseluruhan, BPS mencatat Sulawesi Utara mengalami inflasi sebesar 0,57 persen pada Oktober 2026 dibandingkan September 2026.

Sementara itu, inflasi tahun kalender atau periode Januari hingga Oktober 2026 mencapai 7,96 persen. Adapun inflasi secara tahunan tercatat sebesar 8,07 persen.

Lonjakan harga tomat menjadi salah satu gambaran tingginya tekanan harga pangan di Sulawesi Utara. Pada Oktober 2026, harga komoditas tersebut sempat menyentuh Rp25.000 per kilogram.

Sumber: