Harga Cabai Rawit Rp200 Ribu, Inflasi Sulut Berisiko Tembus 4,5 Persen

Harga Cabai Rawit Rp200 Ribu, Inflasi Sulut Berisiko Tembus 4,5 Persen

Harga cabai di sentra perdagangan Kota Manado masih tinggi. -ANTARA/Nancy L Tigauw-

Manado – Harga cabai rawit yang melonjak hingga Rp200 ribu per kilogram menjadi perhatian karena berpotensi menambah tekanan inflasi Sulawesi Utara. Kondisi tersebut dinilai dapat membawa inflasi tahunan Sulut pada September 2026 ke kisaran 4,2 hingga 4,5 persen.

Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Prof Dr Joy Tulung mengatakan kenaikan harga cabai rawit saat ini tidak lagi sekadar gejolak harga yang terjadi secara musiman.

"Lonjakan harga cabai rawit hingga Rp200 ribu per kilogram tidak dapat lagi dianggap sebagai fluktuasi musiman biasa, ini merupakan sinyal kuat terjadinya gangguan pasokan akibat kemarau panjang, turunnya produksi, dan berkurangnya pasokan dari daerah penghasil," kata Joy, di Manado, Jumat.

Menurut Joy, tekanan terhadap inflasi Sulut sebenarnya sudah terlihat sejak Agustus 2026. Pada bulan tersebut, Sulut mencatat inflasi 0,29 persen secara bulanan dan 3,99 persen secara tahunan.

Sementara itu, inflasi tahunan Kota Manado tercatat lebih tinggi, yakni mencapai 4,21 persen.

Cabai rawit dan kangkung menjadi dua komoditas yang ikut memberikan tekanan terhadap inflasi Agustus. Kenaikan harga cabai yang berlangsung sejak akhir Agustus juga berpotensi memberikan efek lanjutan terhadap inflasi September.

Joy mengingatkan harga cabai yang mencapai Rp200 ribu per kilogram di satu atau dua pasar belum otomatis membuat inflasi melonjak sebesar kenaikan harga komoditas tersebut.

Hal itu karena penghitungan inflasi memperhitungkan rata-rata harga berbagai barang dan jasa selama periode pencacahan.

Jika harga tinggi hanya bertahan selama beberapa hari dan pasokan kembali normal, dampaknya terhadap inflasi masih dapat ditekan.

Namun, situasinya berbeda apabila harga cabai rawit di kisaran Rp180 ribu hingga Rp200 ribu bertahan selama dua sampai tiga pekan dan terjadi di sebagian besar pasar.

Dalam kondisi tersebut, cabai rawit berpotensi memberikan sumbangan beberapa persepuluh poin persentase terhadap inflasi.

Joy memperkirakan inflasi Sulut pada September dapat berada di kisaran 0,3 hingga 0,6 persen secara bulanan. Jika kondisi tersebut terjadi, inflasi tahunan Sulut berpotensi bergerak ke rentang 4,2 hingga 4,5 persen.

"Ini merupakan skenario risiko, bukan angka proyeksi resmi, karena masih bergantung pada pergerakan harga tomat, bawang, beras, ikan, dan angkutan udara," katanya.

Dampak Merembet ke Harga Makanan

Menurut Joy, persoalan kenaikan harga cabai tidak hanya berkaitan dengan angka inflasi. Rumah tangga juga akan menghadapi peningkatan pengeluaran, sementara rumah makan, katering, dan pelaku UMKM kuliner dapat mengalami kenaikan biaya produksi.

Sumber: