Sulut Datangkan 3 Ton Cabai Rawit dari Makassar untuk Tekan Harga

Sulut Datangkan 3 Ton Cabai Rawit dari Makassar untuk Tekan Harga

Pasar sembako pangan--

MANADO - Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mendatangkan 3.000 kilogram atau 3 ton cabai rawit dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan cabai sekaligus memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.

Kepala Biro Perekonomian Provinsi Sulawesi Utara Reza Dotulung mengatakan pasokan cabai dari Makassar diharapkan dapat membantu memenuhi permintaan masyarakat sekaligus menekan harga yang masih tinggi di pasaran.

"Nanti akan masuk cabai rawit sebanyak 3.000 kg dari Makassar dan kami berharap pasokan ini mampu memenuhi permintaan masyarakat Sulut yang cukup tinggi," kata Reza di Manado, Rabu 9 September 2026.

Selain mendatangkan pasokan dari luar daerah, Pemprov Sulut juga membatasi pengiriman cabai rawit ke luar wilayah. Kebijakan tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat Sulut tetap terpenuhi.

"Kami harap produksi cabai di Sulut ataupun yang dari Makassar tidak lagi dijual ke luar daerah," katanya.

Reza menjelaskan pemerintah perlu menjaga ketersediaan cabai rawit dan komoditas pangan lainnya di sejumlah sentra perdagangan di Sulut.

"Kami harap dengan didatangkan cabai rawit dari Makassar ini, akan menekan harga di pasaran, dan masyarakat bisa mendapatkan dengan harga jauh lebih murah," katanya.

Harga Cabai Rawit Sempat Rp200 Ribu per Kg

Reza mengungkapkan harga cabai rawit di Sulut masih tergolong tinggi dalam sepekan terakhir. Cabai rawit asal Gorontalo bahkan sempat mencapai Rp200 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga cabai rawit lokal berada di kisaran Rp150 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram.

Namun, tingginya permintaan terhadap cabai asal Gorontalo juga dipengaruhi selera masyarakat Manado dan daerah sekitarnya yang cenderung menyukai cabai dengan tingkat kepedasan lebih tinggi.

Namun, katanya, kebiasaan orang Manado dan sekitarnya menginginkan cabai rawit yang lebih pedas seperti yang dari Gorontalo.

Pemprov Sulut bersama dinas terkait terus memantau perkembangan harga dan melakukan pengawasan di lapangan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi apabila terjadi gejolak harga.

Pihaknya bersama dinas terkait, katanya, terus melakukan pemantauan harga dan pengawasan, sehingga jika terjadi gejolak maka akan segera ditindaklanjuti.

Sumber: