Zulhas Ancam Pecat SPPG yang Telat Kirim Makanan MBG
Petugas SPPG persiapkan MBG--
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan akan menertibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlambat mendistribusikan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pernyataan itu disampaikan Zulhas saat ditemui wartawan seusai menghadiri kegiatan Lampung Financial Festival (Finfest) 2026 di Bandar Lampung, Sabtu. Menurutnya, persoalan distribusi makanan menjadi salah satu hal yang perlu dibenahi untuk mencegah terulangnya kasus dugaan keracunan MBG.
Zulhas menyoroti keterlambatan pengiriman makanan dari dapur SPPG. Ia menilai makanan yang seharusnya dikirim pada pagi hari, tetapi baru didistribusikan beberapa jam kemudian, berpotensi mengalami masalah dan memicu keracunan.
“Dapur bagus, semua bagus. Tapi budaya. Misalnya, masak harusnya dikirim jam 6, mungkin bangunnya kesiangan, dikirimnya jam 11. Itu menimbulkan keracunan,” kata Zulhas.
Menurut Zulhas, kasus keracunan MBG yang terjadi belakangan ini merupakan akibat kesalahan manusia. Kesalahan tersebut bisa terjadi karena kelalaian maupun tindakan yang disengaja.
Karena itu, pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi SPPG. Zulhas memberikan waktu dua bulan untuk melakukan pembenahan dan memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai ketentuan.
Ia juga menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap SPPG maupun petugas yang terbukti lalai. Sanksi yang diberikan bahkan dapat berupa pergantian hingga pemecatan karyawan.
“Ini kan menyangkut banyak kebiasaan kita, karena ini menyangkut 60 juta orang. Ini yang kami lagi tertibkan. Kasih waktu dua bulan, kami akan menyelesaikan ini. Dan saya sudah minta tidak boleh ada toleransi. Yang lalai, ganti. SPPG siapa saja yang terlibat, ganti. Kita tidak boleh mempertaruhkan anak kita walaupun satu orang keracunan,” tuturnya.
SPPG di Sidoarjo Ditangguhkan
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) masih menangani kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo.
Berdasarkan data terakhir BGN, seluruh korban dugaan keracunan telah membaik. Namun, masih ada 22 orang yang menjalani perawatan di sembilan rumah sakit di wilayah setempat.
Wakil Kepala BGN Mayor Jenderal TNI Trenggono mengatakan, dari total 748 santri yang terdampak, sebagian besar sudah kembali ke pondok setelah memperoleh perawatan medis.
BGN sebelumnya telah menangguhkan operasional SPPG Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Rabu (2/9). Penghentian sementara tersebut dilakukan menyusul kejadian dugaan keracunan yang menimpa para santri.
Menurut Trenggono, penangguhan dilakukan untuk kepentingan investigasi dan evaluasi. Pemeriksaan diarahkan untuk mengetahui dugaan kelalaian serta kemungkinan adanya ketidakpatuhan petugas dapur terhadap prosedur operasional standar.
Sumber: