Hadapi El Nino Ekstrem, Distan Sulut Siapkan Tanaman Tahan Kekeringan
Ilustrasi musim kemarau dan kekeringan -AI-
MANADO– Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menyiapkan sejumlah varietas tanaman yang mampu bertahan dalam kondisi minim air untuk membantu petani menghadapi dampak El Nino ekstrem.
Fenomena cuaca tersebut melanda Sulut sejak akhir Mei hingga Agustus 2026 dan berpotensi memberikan tekanan terhadap sektor pertanian, terutama akibat berkurangnya ketersediaan air.
"El Nino ekstrem di Sulut sejak akhir Mei hingga Agustus 2026 memicu kekeringan dan berdampak pada lingkungan, kesehatan, pertanian, serta ekonomi," kata Kepala Dinas Pertanian Sulut Wilhelmina Nova Pangemanan, di Manado, Kamis 4 September 2026.
Nova mengatakan langkah antisipasi dilakukan mengikuti arahan Gubernur Sulut Yulius Selvanus. Sejumlah strategi disiapkan, mulai dari pemetaan wilayah yang rawan kekeringan, optimalisasi pengelolaan air, percepatan tanam, hingga penggunaan varietas tanaman yang memiliki ketahanan terhadap kondisi kering.
Menurut dia, pemetaan wilayah menjadi bagian penting agar pemerintah dapat mengetahui daerah yang memiliki risiko kekeringan dan menentukan penanganan secara lebih cepat.
Selain pemetaan dan pengelolaan air, pemerintah juga akan menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi lahan serta kebutuhan petani.
"Kami akan siapkan tanaman sesuai dengan permintaan para petani di Sulut yang mungkin sesuai dengan lahan yang mereka miliki," katanya.
Salah satu tanaman yang dapat menjadi pilihan adalah padi gogo. Jenis padi tersebut memang dikembangkan untuk ditanam di lahan kering atau tegalan dan tidak membutuhkan genangan air seperti budidaya padi sawah.
Sementara itu, Gubernur Sulut Yulius Selvanus menyebut sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak El Nino ekstrem.
Terbatasnya pasokan air untuk kebutuhan irigasi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu panjang, petani bahkan menghadapi risiko gagal panen.
Karena itu, Yulius meminta langkah mitigasi dilakukan sejak dini, khususnya pada wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan berkepanjangan.
"Melakukan pemetaan wilayah, mengoptimalkan pengelolaan air, melakukan percepatan tanam dengan menggunakan varietas tahan kekeringan, mengatur pola tanam, serta meningkatkan koordinasi dan sinergi," katanya.
Sumber: