BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Kering dan Angin Kencang di Sulawesi Utara
Ilustrasi musim kemarau dan kekeringan -AI-
MANADO – Kondisi cuaca kering yang terjadi di Sulawesi Utara dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer. BMKG menyebut aktivitas Monsun Australia serta fenomena El Nino dengan intensitas kuat turut menekan pertumbuhan awan dan mengurangi curah hujan di wilayah tersebut.
Koordinator Bidang Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, Karina Husna mengatakan, kondisi tersebut juga berdampak terhadap peningkatan kecepatan angin.
"El Nino dengan intensitas kuat dan IOD positif berpengaruh terhadap terhambatnya pertumbuhan awan akibat kondisi tekanan udara yang tinggi, yang turut meningkatkan kecepatan angin di wilayah Sulut," ujar dia di Manado, Minggu 23 Agustus 2026.
Faktor lain yang turut memengaruhi kondisi angin di Sulawesi Utara adalah keberadaan bibit siklon tropis 97W. Sistem tersebut berada di wilayah Samudra Pasifik utara Papua dan berkontribusi terhadap peningkatan kecepatan angin di Sulut.
Di tengah kondisi tersebut, BMKG menerbitkan peringatan dini yang berlaku hingga 30 Agustus 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan berintensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang.
Warga juga perlu mengantisipasi peningkatan akumulasi curah hujan harian yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Meski demikian, BMKG memprakirakan cuaca di provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 2,74 juta jiwa itu secara umum berada dalam kondisi cerah hingga hujan ringan.
Prakiraan tersebut berlaku untuk Kota Tomohon, Manado, Bitung, Kotamobagu, serta Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Minahasa Tenggara.
Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Selatan, Kepulauan Sitaro, Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud.
Sementara itu, musim kemarau yang berlangsung di Sulawesi Utara telah memicu kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah, termasuk Kota Manado, Kabupaten Minahasa Selatan, dan Kabupaten Minahasa Tenggara.
Kondisi kemarau yang diperparah angin kencang juga menyebabkan sekitar 1.000 hektare kawasan hutan lindung Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara terbakar.
Sumber: