Guru Besar Unsrat Dorong Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi Perubahan Iklim
Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Samrat) Manado Prof Dr Joy Tulung, -ANTARA-
MANADO - Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Prof Dr Joy Tulung mendorong pemerintah memperkuat ketahanan pangan di Sulawesi Utara (Sulut) untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga dan perekonomian daerah.
Menurut Joy, penguatan ketahanan pangan perlu dilakukan melalui peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perikanan yang mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi iklim.
"Dalam jangka menengah, pemerintah perlu memperkuat ketahanan pangan daerah melalui peningkatan produktivitas sektor pertanian dan perikanan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim," kata Joy di Manado, Rabu 12 Agustus 2026.
Ia menilai pemanfaatan teknologi pertanian menjadi salah satu langkah penting untuk menghadapi tantangan tersebut. Selain itu, pemerintah perlu memperbaiki sistem irigasi, memanfaatkan informasi prakiraan cuaca, serta memperkuat rantai pasok dan sistem logistik.
Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan komoditas sekaligus mencegah gejolak harga di tengah perubahan kondisi cuaca.
Joy juga menyoroti sistem distribusi pangan di Sulawesi Utara yang memiliki karakteristik sebagai wilayah kepulauan. Menurut dia, efisiensi distribusi antarpulau perlu mendapat perhatian agar tingginya biaya logistik tidak justru menjadi sumber tekanan inflasi baru.
Ia menjelaskan, inflasi tidak selalu menunjukkan kondisi perekonomian yang buruk. Inflasi yang masih terkendali justru dapat menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan ketika tekanan inflasi mulai muncul secara bersamaan dari berbagai kelompok pengeluaran dan diperkuat faktor eksternal, termasuk cuaca ekstrem.
"Sinergi yang kuat antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, BPS, TPID, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama agar inflasi Sulawesi Utara tetap berada dalam kisaran yang sehat, daya beli masyarakat tetap terjaga, dan pertumbuhan ekonomi daerah hingga akhir tahun dapat berlangsung secara berkelanjutan," ujar dia.
Menurut Joy, perkembangan inflasi Sulawesi Utara pada Agustus 2026 perlu menjadi perhatian bersama. Pasalnya, tekanan inflasi kali ini tidak hanya berasal dari kelompok komoditas pangan, tetapi juga dipengaruhi kenaikan biaya pendidikan, khususnya pada kelompok perguruan tinggi.
Kenaikan biaya pendidikan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tekanan harga dari komoditas pangan musiman. Harga cabai, tomat, atau bawang misalnya, dapat kembali turun ketika pasokan membaik.
Sementara itu, kenaikan biaya pendidikan cenderung bertahan lebih lama karena umumnya berlaku selama satu tahun akademik.
Kondisi tersebut, lanjut Joy, berpotensi mendorong kenaikan inflasi inti atau core inflation dan memberikan tekanan yang lebih panjang terhadap tingkat harga secara umum.
Tantangan pengendalian inflasi juga diperkirakan masih cukup besar hingga akhir 2026. Sejumlah prakiraan menunjukkan fenomena cuaca ekstrem berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sumber: