Gunung Karangetang Masih Berstatus Waspada, Badan Geologi: Suara Gemuruh Terdengar hingga Pos Pengamatan
Gunung Karangetang di Pulau Siau meletus -BPBD Kepulauan Sitaro-
MANADO – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan aktivitas Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, masih berada pada Level II atau Waspada. Dalam evaluasi periode 1–15 Juli 2026, suara gemuruh dari gunung api tersebut dilaporkan masih sesekali terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api (PGA).
"Kondisi visual pada kawah utama (selatan) tidak teramati adanya kejadian guguran/erupsi efusif, tinggi asap maksimum mencapai 700 meter di atas puncak," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan melalui Info Gunung Api Sitaro di Manado, Senin 20 jJuli 2026.
Berdasarkan pemantauan instrumental selama periode tersebut, aktivitas kegempaan mencatat satu kali gempa erupsi, 13 gempa guguran, 90 gempa embusan, tujuh tremor harmonik, dan 40 tremor non-harmonik.
Selain itu, terekam 11 gempa hibrid atau fase banyak, 44 gempa vulkanik dangkal, 24 gempa vulkanik dalam, empat gempa tektonik lokal, empat gempa yang dirasakan dengan skala I–III MMI, serta 173 gempa tektonik jauh.
Laporan Badan Geologi juga mencatat terjadi erupsi di kawah utara pada 12 Juli 2026 pukul 19.14 WITA. Erupsi strombolian tersebut melontarkan material pijar hingga sekitar 100 meter di atas kawah dan disertai suara dentuman.
Erupsi kemudian berlanjut dalam bentuk efusif atau guguran lava yang mengalir ke arah utara sejauh sekitar 1.000 meter, ke barat daya sekitar 400 meter, serta ke arah selatan sejauh kurang lebih 1.000 meter. Jarak luncuran lava tersebut masih berada dalam batas rekomendasi teknis dan aktivitas erupsi berlanjut hingga 13 Juli 2026.
Meski aktivitas kegempaan menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, Badan Geologi menilai potensi bahaya masih perlu diwaspadai. Warga diminta memperhatikan kemungkinan luncuran lava pijar ke sektor utara, barat, dan barat daya, serta potensi awan panas guguran akibat runtuhnya kubah lava lama di puncak gunung.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman lahar hujan apabila terjadi curah hujan tinggi di kawasan puncak Gunung Karangetang.
Berdasarkan hasil analisis hingga 15 Juli 2026, Badan Geologi mempertahankan status aktivitas Gunung Karangetang pada Level II (Waspada).
Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diimbau tidak beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Utama (Selatan) dan Kawah Dua (Utara), serta radius 2,5 kilometer di sektor barat daya hingga selatan Kawah Utama.
Selain itu, warga disarankan menyiapkan masker untuk mengantisipasi gangguan saluran pernapasan jika sewaktu-waktu terjadi hujan abu. Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Karangetang juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar hujan dan banjir bandang. *
Sumber: