Gubernur Sulut Tekankan Pentingnya Peran Ayah dalam Keluarga saat Peringatan Harganas
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus didampingi Wakil Gubernur Victor J Mailangkay dan Kepala Perwqakilan BKKBN Sulut, Jeanny Y Winokan menyerahkan piagam penghargaan untuk keluarga dengan usia perkawinan tertentu. ANTARA/Karel A Polakitan--
MANADO - Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menegaskan bahwa peran seorang ayah di dalam keluarga tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga harus terlibat secara aktif dalam tumbuh kembang anak.
Pesan tersebut disampaikan Yulius saat memimpin upacara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Manado, Senin. Menurutnya, tema Harganas tahun ini menjadi pengingat bahwa kehadiran seorang ayah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menjadi pencari nafkah.
"Tema Harganas ayah wajib hadir mengandung makna bahwa seorang ayah tidak cukup hanya menjadi pencari nafkah," ujar Gubernur Yulius di Manado, Senin.
Yulius mengatakan, dalam kehidupan keluarga, seorang ayah harus benar-benar hadir untuk memberikan perhatian, kasih sayang, serta mendampingi proses pertumbuhan anak.
"Seorang ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi hadir memeluk anak-anaknya agar mereka dapat bertumbuh dengan baik," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga membacakan sambutan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji. Ia menilai pesan yang disampaikan menteri sejalan dengan berbagai program yang telah dijalankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Menurut Yulius, implementasi program tersebut telah membuahkan hasil yang terlihat dari capaian daerah dalam menekan angka stunting dan kemiskinan.
"Amanat Menteri yang saya bacakan dan tentunya sangat dipahami, tinggal dilaksanakan saja. Upaya-upaya ini sudah kita lakukan di Sulawesi Utara. Faktanya kita mendapat juara satu dalam penurunan stunting dan kemiskinan," kata Gubernur.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Utara, Jeanny Y. Winokan, mengingatkan pentingnya kehadiran ayah tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional di tengah keluarga.
"Yang menjadi perhatian adalah jangan sampai ayah ada secara fisik, tetapi secara emosional tidak hadir dalam kehidupan keluarga atau fatherless," katanya.
Jeanny menjelaskan bahwa dalam banyak keluarga, tanggung jawab pengasuhan anak justru lebih banyak dilakukan oleh kakek dan nenek karena kedua orang tua sibuk bekerja. Kondisi tersebut membuat perkembangan anak lebih banyak dipantau oleh oma dan opa dibandingkan orang tuanya sendiri.
"Ini menjadi perhatian kita bersama agar tanggung jawab pengasuhan tetap berada pada orang tua," ujarnya.
Ia juga mengajak media berperan aktif menyampaikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam membangun keluarga yang harmonis dan mendukung tumbuh kembang anak. *
Sumber: