Rupiah Hari Ini Rp18.066 per dolar AS, Terburuk Sepanjang Sejarah
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS--
JAKARTA- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026. Mata uang Garuda tercatat melemah di awal sesi, seiring proyeksi pergerakan yang masih dibayangi sentimen global yang belum mereda.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah turun 17 poin atau 0,09 persen ke level Rp18.066 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp18.049 per dolar AS.
Di tengah sesi perdagangan pagi, pergerakan dolar AS terhadap rupiah tercatat bervariasi berdasarkan data Google Finance. Pada pukul 09.10 WIB, dolar AS melemah tipis 0,11 persen ke level Rp18.040. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 09.13 WIB, kurs berada di kisaran Rp18.027. Sementara itu, pada awal pembukaan, dolar AS sempat tercatat melemah 0,09 persen di posisi Rp18.044. Adapun pada penutupan sebelumnya, nilai tukar berada di sekitar Rp18.060 berdasarkan data yang sama.
Untuk proyeksi perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pergerakan mata uang diprediksi berada dalam rentang Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut di tengah dinamika pasar global.
"Untuk perdagangan Jumat mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 18.050 - Rp 18.120," kata Ibrahim kepada media, Jumat, 5 Juni 2026.
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, rupiah ditutup melemah sebesar 82 poin ke level Rp18.049 per dolar AS. Dalam sesi perdagangan tersebut, rupiah bahkan sempat tertekan hingga 90 poin di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta sejumlah sentimen domestik yang turut membebani pasar.
Ibrahim menilai pelaku pasar masih mengambil sikap hati-hati. Hal ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran global.
Meski Amerika Serikat telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, pelaksanaannya disebut masih bergantung pada penghentian aksi permusuhan oleh kelompok Hizbullah.
Ketegangan di kawasan tersebut juga kembali meningkat setelah muncul laporan serangan rudal Iran yang disebut menyasar Kuwait dan Bahrain. Di saat yang sama, Amerika Serikat dilaporkan melakukan serangan terhadap Pulau Qeshm milik Iran yang berada di dekat Selat Hormuz.
Tidak hanya itu, militer Israel juga terus memperluas operasi di wilayah Lebanon selatan yang selama ini dikenal sebagai basis Hizbullah. Situasi ini semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Sumber: