Kantor Terpadu Harian Disway, DBL Indonesia, dan Persebaya Resmi Dibangun
--
SURABAYA – Harian Disway resmi memulai pembangunan gedung kantor barunya yang berlokasi di Jalan Ketabang Kali, Surabaya. Lokasi tersebut berada tepat di belakang kantor lama Harian Disway di Jalan Walikota Mustajab yang berhadapan langsung dengan Balai Kota Surabaya.
Gedung yang dibangun secara vertikal itu nantinya akan menjadi pusat aktivitas bersama bagi Harian Disway, DBL Indonesia, dan Persebaya. Kehadiran gedung baru ini diharapkan mampu mendukung berbagai kegiatan dan kolaborasi antarlembaga di bawah naungan yang sama.
Prosesi peletakan batu pertama atau groundbreaking dilaksanakan secara sederhana dengan mengundang sejumlah mitra dan rekan perusahaan. Acara tersebut menjadi penanda dimulainya pembangunan gedung yang diproyeksikan sebagai pusat kolaborasi berbagai unit usaha tersebut.
Chief Financial Officer (CFO) Harian Disway Annie Wong menyampaikan harapannya agar pembangunan gedung baru ini menjadi tonggak penting bagi perjalanan perusahaan ke depan.
"Semoga dengan pembangunan gedung Disway Center ini dapat memperkuat harapan dan komitmen kita untuk memiliki masa depan yang berkepanjangan. Kami berharap gedung ini membawa kemajuan, ruang kolaborasi, serta memberikan manfaat luas bagi kita semua," ujar Annie Wong.
Sementara itu, Founder Disway Dahlan Iskan mengungkapkan bahwa nama resmi gedung tersebut hingga kini masih belum diputuskan. Untuk sementara, proyek pembangunan masih menggunakan nama Disway Center.
“Nama gedung ini masih saya rahasiakan. Terutama pada anak saya Azrul Ananda. Sebab dia juga merahasiakan pemain rekrutan baru Persebaya untuk musim depan,” kata Dahlan yang disambut tawa para tamu undangan.
Diketahui, Azrul Ananda saat ini menjabat sebagai Presiden Klub Persebaya Surabaya. Dahlan berharap nama yang nantinya dipilih mampu mencerminkan semangat kebersamaan dan kolaborasi antara Disway, DBL Indonesia, serta Persebaya.
Dalam kesempatan tersebut, Dahlan juga menceritakan pengalamannya memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk mencari inspirasi nama gedung.
“Saya sempat masukkan konsep gedung ini ke AI lalu minta rekomendasi nama. Eh ternyata dikasih nama Bonek Center. Rupanya AI tahu juga Bonek,” ujar Dahlan.
Menurutnya, pembangunan gedung dilakukan tanpa menggunakan jasa kontraktor swasta. Seluruh proses pengerjaan dilakukan secara swakelola dengan tetap melibatkan tim pengawas proyek guna memastikan kualitas pembangunan sesuai rencana.
"Kami ingin desain yang tidak biasa, yang mudah-mudahan belum ada di Surabaya. Karena itu kami ingin leluasa membangun sendiri sesuai dengan keinginan sendiri," tegasnya.
Sebagai simbol dimulainya pembangunan, panitia menggelar pemukulan gong yang kemudian dilanjutkan dengan penancapan tiang pancang pertama menggunakan Hydraulic Static Pile Driver (HSPD). Prosesi simbolis tersebut berlangsung tepat pada pukul 09.17 WIB.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa agar proses pembangunan dapat berjalan lancar hingga selesai sesuai target yang telah ditetapkan.
Sumber: