Gunung Karangetang Masih Bergemuruh, Aktivitas Vulkanik Meningkat, Warga Diminta Waspada

Gunung Karangetang Masih Bergemuruh, Aktivitas Vulkanik Meningkat, Warga Diminta Waspada

Aktivitas Gunung Karangetang Masih Tinggi, 790 Gempa Embusan Tercatat hingga Pertengahan Februari--

MANADO - Aktivitas Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, masih menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Berdasarkan laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 1–15 April 2026, suara gemuruh dari kawah masih kerap terdengar.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan kondisi visual di kawah utama belum menunjukkan erupsi efusif, meski aktivitas tetap terpantau.

"Kondisi visual pada kawah utama (selatan) tidak teramati adanya kejadian guguran/erupsi efusif, tinggi asap maksimum mencapai 150 meter di atas puncak, suara gemuruh kadang terdengar di pos pengamatan gunung api," kata Lana Saria dalam laporan yang diterima di Manado, Selasa.

Sementara itu, pada kawah utara atau kawah dua, aktivitas terlihat lebih aktif. Asap putih terpantau dengan intensitas sedang hingga tebal dengan ketinggian mencapai 400 meter di atas puncak. Selain itu, sinar api juga terlihat pada kolom asap dengan ketinggian hingga 20 meter, disertai suara gemuruh yang kadang terdengar dari lemah hingga kuat.

Aktivitas erupsi efusif berupa aliran lava masih terjadi ke arah selatan menuju Kali Sumpihi dengan jarak 200 hingga 1.200 meter. Meski demikian, aliran tersebut masih berada dalam batas aman sesuai rekomendasi.

Dari sisi kegempaan, terjadi peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Gempa embusan tercatat mengalami kenaikan dengan intensitas yang masih tinggi.

Pihak ESDM mengingatkan potensi bahaya yang bisa terjadi, termasuk awan panas guguran. Hal ini berkaitan dengan keberadaan kubah lava lama di puncak yang sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan keluarnya lava baru.

Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai kemungkinan aliran lava dari kawah utara ke arah barat daya hingga selatan, serta potensi lahar hujan saat curah hujan tinggi di area puncak.

Hingga 15 April 2026, status Gunung Karangetang masih berada pada Level II atau Waspada. Rekomendasi yang dikeluarkan pun disesuaikan dengan potensi ancaman yang ada saat ini.

Masyarakat, pengunjung, dan pendaki diimbau untuk tidak mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari kawah utama dan kawah utara. Selain itu, zona sejauh 2,5 kilometer di sektor barat daya dan selatan dari kawah utama juga harus dihindari.

Warga di sekitar gunung juga disarankan menyiapkan masker guna mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan, khususnya gangguan pernapasan.

Selain itu, masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari Gunung Karangetang diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar hujan dan banjir bandang.

Selama periode pengamatan tersebut, tercatat aktivitas kegempaan yang cukup tinggi, yakni 424 gempa embusan, 15 tremor harmonik, 109 tremor nonharmonik, tiga gempa hybrid, 15 gempa vulkanik dangkal, 81 gempa vulkanik dalam, tiga gempa tektonik lokal, 18 gempa terasa dengan skala I–III MMI, serta 939 gempa tektonik jauh. *

Sumber: