Dilaporkan soal Ceramah di UGM, Jusuf Kalla Pertimbangkan Langkah Hukum Balik

Dilaporkan soal Ceramah di UGM, Jusuf Kalla Pertimbangkan Langkah Hukum Balik

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla-Antara foto-

JAKARTA – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla membuka kemungkinan menempuh jalur hukum setelah dirinya dilaporkan ke polisi atas dugaan penistaan agama. Laporan tersebut berkaitan dengan ceramah yang disampaikannya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) saat Ramadhan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu, JK menyampaikan bahwa opsi untuk mengambil tindakan hukum sedang dipertimbangkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

"Kami akan pertimbangkan karena kalau tidak dituntut, ini akan terulang lagi," ujar JK, sapaan akrabnya.

Ia juga menilai laporan yang ditujukan kepadanya mengandung unsur fitnah, sehingga membuka peluang untuk melakukan pelaporan balik terhadap pihak-pihak yang melaporkannya.

"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Semua memfitnah saya," katanya.

Meski demikian, JK menegaskan bahwa seluruh langkah hukum yang akan diambil diserahkan sepenuhnya kepada tim kuasa hukum yang mendampinginya.

Di sisi lain, ia tidak mempermasalahkan jika ada masyarakat yang merasa keberatan dan memilih melaporkan dirinya ke aparat penegak hukum.

"Banyak masyarakat yang mau (melapor, red.) karena tersinggung," ujarnya.

"Masyarakat tidak bisa ditahan kalau dia mau," katanya melanjutkan.

Terkait materi ceramah yang dipersoalkan, JK menjelaskan bahwa dirinya hanya membahas isu perdamaian dalam forum tersebut, bukan melakukan penistaan agama seperti yang dituduhkan.

"Acara di UGM itu, acara ceramah pada bulan puasa, seperti dilakukan di mana-mana, di masjid. Saya diundang, datang, karena temanya adalah perdamaian. Jadi, khususnya temanya tentang langkah-langkah ke perdamaian," jelasnya.

Dalam ceramah itu, ia turut mengulas berbagai konflik, baik di tingkat global maupun nasional, termasuk sejumlah konflik yang pernah terjadi di Indonesia.

"Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena wilayah kayak Timtim (Timor Timur), ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu," katanya.

JK juga menyinggung konflik berlatar agama yang pernah terjadi di Maluku dan Poso. Dalam penjelasannya, ia menyebut adanya kesamaan konsep mengenai kematian dalam membela keyakinan, yang dikenal dengan istilah syahid dalam Islam dan martir dalam Kristen.

Sumber: