BMKG Catat 1.378 Gempa Susulan Pascagempa M 7,6 di Maluku Utara

BMKG Catat 1.378 Gempa Susulan Pascagempa M 7,6 di Maluku Utara

ilustrasi gempa--

DISWAY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan ribuan gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Maluku Utara pada 2 April 2026. Aktivitas seismik tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa pekan ke depan sebelum benar-benar mereda.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama menyampaikan bahwa hingga pemantauan terakhir pada Kamis pagi, jumlah gempa susulan yang tercatat sudah mencapai lebih dari seribu kejadian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.378 gempa susulan terjadi pascagempa utama magnitudo 7,6 di Maluku Utara, dengan aktivitas seismik diperkirakan baru akan meluruh sepenuhnya dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu sejak kejadian pada 2 April 2026.

Ia menjelaskan, dari total gempa susulan yang tercatat hingga pukul 06.00 WIB, sebagian di antaranya masih dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah.

“Meskipun tren menunjukkan penurunan, intensitas gempa selama masa peluruhan ini bersifat fluktuatif, sehingga getaran yang dirasakan sesekali mungkin masih muncul sebelum kondisi benar-benar stabil,” kata Nelly.

Data pemantauan harian BMKG menunjukkan jumlah gempa susulan terus mengalami penurunan secara bertahap. Pada hari pertama setelah gempa utama, tercatat sebanyak 394 kejadian gempa susulan.

Jumlah tersebut kemudian berkurang menjadi 91 kejadian pada hari keenam, dan kembali turun menjadi 63 kejadian pada hari ketujuh setelah gempa utama terjadi.

Menurut para ahli seismologi BMKG, seluruh rangkaian gempa susulan tersebut merupakan bagian dari proses alami pelepasan energi akibat gempa utama. Secara statistik, aktivitas tersebut diperkirakan akan mereda dalam beberapa minggu mendatang.

Di sisi lain, BMKG juga memastikan tim survei gabungan masih terus melakukan pengecekan dampak gempa di lapangan. Tim tersebut terdiri dari unsur pusat BMKG, Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah IV, serta Unit Pelaksana Teknis di Maluku Utara dan Sulawesi Utara.

Berdasarkan hasil survei makroseismik, tingkat guncangan tertinggi tercatat mencapai skala VII MMI di Kecamatan Pulau Batang Dua. Tingkat guncangan ini dinilai sesuai dengan peta intensitas gempa yang sebelumnya telah dirilis BMKG.

Selain itu, tim juga menemukan jejak rendaman tsunami dengan ketinggian antara 0,5 hingga 1,5 meter di sejumlah wilayah pesisir. Lokasi yang teridentifikasi antara lain Bitung, Pulau Lembeh, Minahasa Utara, serta Minahasa Tenggara.

Temuan tersebut dinilai sejalan dengan peringatan dini tsunami berstatus siaga yang sempat dikeluarkan saat gempa utama terjadi.

Untuk meningkatkan keselamatan masyarakat selama masa pemulihan, BMKG juga melakukan pengukuran mikrozonasi. Langkah ini bertujuan memetakan kerentanan tanah terhadap potensi likuefaksi dan longsor di wilayah terdampak.

Selain itu, sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat juga terus digencarkan guna mencegah penyebaran informasi yang tidak benar terkait aktivitas gempa.

Sumber: