Aktivitas Gunung Lokon Didominasi Gempa Tektonik, Warga Diminta Jaga Jarak 1,5 Km
Gunung Lokon-Dok Antara-
DISWAY.ID, Manado - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan aktivitas Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, selama periode 1–15 Februari 2026. Dalam rentang waktu tersebut, gempa tektonik jauh tercatat paling dominan dibanding jenis gempa lainnya.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memaparkan rincian aktivitas kegempaan yang terekam selama periode pengamatan tersebut.
"Terekam sebanyak 20 kali gempa embusan, 44 kali gempa vulkanik dangkal, delapan kali gempa vulkanik dalam, dua kali gempa tektonik lokal dan 81 kali gempa tektonik jauh," kata Lana Saria dalam laporan yang diterima di Manado, Selasa.
Dari hasil pemantauan visual, Gunung Lokon teramati mengeluarkan embusan asap putih tipis dengan ketinggian maksimum sekitar 25 meter di atas kawah.
Secara umum, aktivitas kegempaan gunung api ini didominasi gempa vulkanik dangkal (VB). Sementara gempa vulkanik dalam (VA) relatif jarang terekam. Meski demikian, berdasarkan data visual dan seismik, belum terlihat adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan.
Lana juga mengingatkan adanya potensi bahaya yang perlu diwaspadai masyarakat. Salah satunya adalah kemungkinan keluarnya gas beracun dari kawah yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Selain itu, terdapat potensi erupsi freatik, yakni letusan yang dipicu oleh kontak antara uap panas magma dengan air hidrotermal, yang bisa terjadi secara tiba-tiba.
Warga yang bermukim di sekitar aliran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir lahar hujan, terutama jika terjadi hujan deras dengan durasi lama di wilayah puncak.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 15 Februari 2026, status aktivitas Gunung Lokon masih berada pada Level II (Waspada). Rekomendasi yang dikeluarkan disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini.
Masyarakat diimbau untuk mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan, termasuk larangan beraktivitas dan mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan sebagai pusat aktivitas.
Apabila terjadi letusan disertai hujan abu, warga diminta tetap berada di dalam rumah. Jika terpaksa berada di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan pelindung hidung dan mulut (masker) serta pelindung mata seperti kacamata.
Sumber: