Gubernur Sulut: Arus Logistik Sulampua Masih Bergantung pada Jawa dan Bali

Gubernur Sulut: Arus Logistik Sulampua Masih Bergantung pada Jawa dan Bali

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus-Dok DKIPS-

DISWAY.ID - Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menyoroti masih tingginya ketergantungan arus ekspor dan impor kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) terhadap infrastruktur logistik di Pulau Jawa dan Bali. 

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung pada lamanya waktu distribusi serta tingginya biaya logistik yang harus ditanggung pelaku usaha di kawasan timur Indonesia.

Menurut Yulius, pola distribusi yang selama ini berjalan membuat pengiriman barang dari kawasan Sulampua ke pasar utama Asia Timur belum efisien. Jalur yang harus melewati Jawa menyebabkan durasi pengiriman menjadi jauh lebih panjang, sehingga menurunkan daya saing produk dari kawasan timur.

"Pola ini menyebabkan waktu tempuh yang panjang dan biaya logistik yang tinggi, di mana pengiriman ke pasar utama Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok dapat mencapai 25-30 hari," kata Yulius di Manado, Selasa.

Ia menjelaskan, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Sulampua hingga kini masih banyak dikonsolidasikan dan diekspor melalui Pulau Jawa. Akibatnya, pencatatan devisa serta berbagai manfaat ekonomi turunan justru lebih banyak tercermin di wilayah tersebut, bukan di daerah asal produksi.

"Akibatnya, nilai tambah logistik tidak sepenuhnya dinikmati oleh kawasan asal. Kondisi serupa terjadi pada arus impor, di mana barang modal, bahan baku, dan barang konsumsi kawasan timur masih harus melalui Pulau Jawa. Hal ini memperpanjang rantai distribusi dan meningkatkan biaya," katanya menambahkan.

Dalam kerangka tersebut, Sulawesi Utara dipandang memiliki peran strategis untuk mendorong perubahan pola logistik kawasan timur Indonesia. Provinsi ini dinilai memiliki keunggulan geografis yang dapat dimaksimalkan sebagai pintu gerbang logistik bagi kawasan Sulampua.

Secara geografis, Sulawesi Utara berada di garis depan Indonesia yang berhadapan langsung dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Asia Timur, seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Selain itu, wilayah ini juga berada di jalur utama perdagangan Asia Pasifik yang menghubungkan Indonesia dengan pasar global.

Posisi strategis tersebut memberikan keuntungan jarak tempuh yang signifikan jika dibandingkan dengan pelabuhan-pelabuhan utama di Pulau Jawa, sehingga berpotensi memangkas waktu dan biaya pengiriman barang.

"Pelabuhan Bitung telah ditetapkan secara nasional sebagai simpul penting pengembangan logistik Indonesia Timur. Penetapan ini menegaskan bahwa Sulawesi Utara memiliki legitimasi kebijakan nasional sebagai hub kawasan," ujar dia.

Yulius menegaskan, peran strategis tersebut perlu dipandang sebagai kepentingan bersama seluruh kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua, bukan hanya milik satu daerah.

"Karena itu, agenda utama kita bukan siapa yang menjadi hub, melainkan bagaimana bersama-sama mengefisiensikan sistem logistik kawasan Sulampua," ujar dia. *

Sumber: