Sulut Dorong Layanan Direct Call, Waktu Ekspor ke Asia Timur Dipangkas hingga 10 Hari
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus-Dok Antara-
DISWAY.ID - Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus mengungkapkan bahwa penerapan layanan direct call atau pelayaran langsung dari Sulawesi Utara berpotensi besar memangkas durasi pengiriman barang ekspor ke sejumlah negara tujuan utama di Asia Timur, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.
Menurut Yulius, kehadiran jalur pelayaran langsung tersebut akan membawa perubahan signifikan terhadap efisiensi distribusi logistik. Waktu tempuh yang sebelumnya memakan hampir satu bulan dapat dipersingkat secara drastis, sehingga berdampak langsung pada penurunan biaya dan peningkatan kepastian usaha bagi pelaku ekonomi.
"Waktu tempuh yang sebelumnya mencapai 25-30 hari dapat dipersingkat menjadi sekitar tujuh hingga sepuluh hari. Kondisi ini akan menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan kepastian usaha," kata Gubernur Yulius di Manado, Selasa 20 Januari 2026.
Dari aspek kesiapan wilayah, Gubernur menilai Sulawesi Utara telah memiliki modal infrastruktur yang cukup kuat untuk menjadi simpul utama logistik kawasan timur Indonesia. Pembangunan dan penguatan sarana pendukung terus dilakukan guna memastikan kelancaran arus barang lintas negara.
Pelabuhan Bitung, misalnya, kini telah berkembang sebagai pelabuhan bertaraf internasional. Fasilitas peti kemas yang tersedia membuka peluang nyata bagi pelabuhan tersebut untuk melayani skema pelayaran direct call secara optimal.
Selain itu, Bandara Internasional Sam Ratulangi juga telah beroperasi sebagai bandara internasional dan mulai mendapatkan dukungan penerbangan kargo dari sejumlah negara, termasuk Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang, yang semakin memperkuat konektivitas logistik Sulawesi Utara.
"Keberhasilan Sulawesi Utara sebagai hub logistik sangat bergantung pada kolaborasi seluruh kawasan Sulampua dalam membangun konsolidasi arus barang yang terintegrasi," ujar Gubernur.
Ia menegaskan, apabila layanan direct call dapat berjalan secara reguler dan berkelanjutan, maka dampak positifnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga masyarakat secara luas.
Selama ini, sebagian besar barang konsumsi dari kawasan Asia Timur masih harus masuk melalui Pulau Jawa sebelum dikirim kembali ke wilayah timur Indonesia. Skema distribusi tersebut dinilai tidak efisien karena memperpanjang waktu pengiriman dan menambah lapisan biaya logistik.
"Selama ini, sebagian besar barang konsumsi dari Asia Timur masih harus melalui Pulau Jawa sebelum didistribusikan kembali ke kawasan timur Indonesia. Pola tersebut menyebabkan waktu tempuh yang panjang, biaya logistik berlapis, dan harga barang yang lebih mahal di tingkat konsumen," ujarnya.
Dengan terbukanya jalur direct call menuju Pelabuhan Bitung, rantai distribusi diharapkan menjadi lebih singkat. Pemangkasan waktu pengiriman tersebut dinilai berpotensi menurunkan biaya logistik hingga dua puluh sampai tiga puluh persen.
"Efisiensi tersebut akan meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, kepastian pasokan barang bagi pelaku usaha juga akan semakin terjamin," ujarnya. *
Sumber: